Bulan April, saya menjadi pembicara dalam acara workshop lintas budaya di Institut Perbanas, Jakarta. Saya memaparkan mengenai dasar-dasar komunikasi, dan beberapa hal untuk menghadapi lintas budaya. Di saat yang sama ada banyak pertanyaan, namun karena keterbatasan waktu ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab, saya menjanjikan akan menjawab dan mengirimkan ke para peserta. Saya menuliskan juga beberapa pertanyaan di blog saya ini.
Tanya: Bagaimana cara mengurangi rasa grogi saat bicara di depan? Bagaimana
sikap percaya diri saat presentasi?
Jawab :
Grogi atau gugup adalah hal biasa saat
berhadapan dengan orang, meskipun saya sering tampil bicara di depan orang,
kadang ras gugup itu masih bisa muncul saat awal hendak bicara atau tampil,
namun demikian saya bisa menguasahinya sehingga kegugupan tidak menguasai diri
saya. Berdasar pengalaman, jam terbang kita dalam berbicara akan sangat
mempengaruhi cara kita mengatasi kegugupan. Sehingga saya sarankan jika kita
sering gugup maka latih dengan aktif di kelas atau dalam pertemuan, mungkin
sekedar menyampaikan pertanyaan yang sudah kita tulis. Jika ada kesempatan
untuk maju, cobalah maju. Jika kita sering aktif maka jam terbang kita
berbicara di depan orang akan meningkat dan kita akan mudah menguasai grogi.
Sebenarnya kita diuntungkan dengan gugup, karena saat kita gugup, detak jantung kita
cepat dan itu menjadikan kita lebih terjaga dan lebih waspada.
Untuk percaya diri, cobalah tuliskan apa
yang membuat tidak percaya diri. Apakah tinggi anda? Atau anda merasa tidak
cantik? Atau anda miskin? Atau kemungkinan lainnya? Buat evaluasi “kelemahan”
yang sudah Anda tulis lalu tanyakan apakah kita bisa merubahnya. Selain itu
tuliskan “kekuatan” kita. Misal Anda tidak percaya diri karena rambut tidak
rapi. Nah, berati kita bisa merapikan sebelum kita berangkat dan selalu sedia
sisir rambut. Namun jika “kelemahan” kita sulit untuk kita atasi, maka perkuat
saja “kekuatan” kita. Misalkan, anda gemuk dan itu menjadi hambatan bagi Anda,
dan anda kesulitan untuk menurunkan
berat badan, namun di sisi lain senyuman anda menarik, nah perkuat saja
senyuman Anda dengan lebih sering tersenyum, jangan hanya fokus di tubuh Anda.
Atau bisa juga anda memperkuat wawasan Anda.
Saya pernah tidak percaya diri karena
orang tua saya tidak kaya. Saat itu SMA. Saya tidak akan berpura-pura kaya atau
berpikir positif seolah-olah ini tidak terjadi, namun saya melihat fakta ini,
mengkui kelemahan saya, lalu saya menonjolkan apa yang bisa jadi kekuatan saya.
Saya berusaha setiap masuk sekolah berpakaian rapi, bersih dan tdak bau. Saya
melatih agar punya senyuman menarik, dan saya juga banyak membaca supaya
wawasan saya meningkat. Ternyata di mata guru-guru saya, saya dipikir anak
oarang kaya, setidaknya dalam beberapa kali dialog mereka heran kalau saya
sering terlambat membayar SPP atau ada yang keheranan karena saya tidak
berlangganan koran kompas (di masa SMU, berlangganan koran ini identik orang
yang berada dan berpendidikan tinggi). Tetapi ingat, saya sedang tidak
berpura-pura kaya, hanya memperkuat yang bisa saya perkuat dalam diri saya. (Pantar Purnawan)
Foto : Penulis saat berinteraksi dengan para mahasiswa Institut Perbanas, Jakarta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar