16 Juli 2012

MENGATASI GROGI

Bulan April, saya menjadi pembicara dalam acara workshop lintas budaya di Institut Perbanas, Jakarta. Saya memaparkan mengenai dasar-dasar komunikasi, dan beberapa hal untuk menghadapi lintas budaya. Di saat yang sama ada banyak pertanyaan, namun karena keterbatasan waktu ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab, saya menjanjikan akan menjawab dan mengirimkan ke para peserta. Saya menuliskan juga beberapa pertanyaan di blog saya ini.  

Tanya: Bagaimana cara mengurangi rasa grogi saat bicara di depan? Bagaimana sikap percaya diri saat presentasi? 
Jawab :
Grogi atau gugup adalah hal biasa saat berhadapan dengan orang, meskipun saya sering tampil bicara di depan orang, kadang ras gugup itu masih bisa muncul saat awal hendak bicara atau tampil, namun demikian saya bisa menguasahinya sehingga kegugupan tidak menguasai diri saya. Berdasar pengalaman, jam terbang kita dalam berbicara akan sangat mempengaruhi cara kita mengatasi kegugupan. Sehingga saya sarankan jika kita sering gugup maka latih dengan aktif di kelas atau dalam pertemuan, mungkin sekedar menyampaikan pertanyaan yang sudah kita tulis. Jika ada kesempatan untuk maju, cobalah maju. Jika kita sering aktif maka jam terbang kita berbicara di depan orang akan meningkat dan kita akan mudah menguasai grogi.

Sebenarnya kita diuntungkan dengan gugup, karena saat kita gugup, detak jantung kita cepat dan itu menjadikan kita lebih terjaga dan lebih waspada.

Untuk percaya diri, cobalah tuliskan apa yang membuat tidak percaya diri. Apakah tinggi anda? Atau anda merasa tidak cantik? Atau anda miskin? Atau kemungkinan lainnya? Buat evaluasi “kelemahan” yang sudah Anda tulis lalu tanyakan apakah kita bisa merubahnya. Selain itu tuliskan “kekuatan” kita. Misal Anda tidak percaya diri karena rambut tidak rapi. Nah, berati kita bisa merapikan sebelum kita berangkat dan selalu sedia sisir rambut. Namun jika “kelemahan” kita sulit untuk kita atasi, maka perkuat saja “kekuatan” kita. Misalkan, anda gemuk dan itu menjadi hambatan bagi Anda, dan anda  kesulitan untuk menurunkan berat badan, namun di sisi lain senyuman anda menarik, nah perkuat saja senyuman Anda dengan lebih sering tersenyum, jangan hanya fokus di tubuh Anda. Atau bisa juga anda memperkuat wawasan Anda.

Saya pernah tidak percaya diri karena orang tua saya tidak kaya. Saat itu SMA. Saya tidak akan berpura-pura kaya atau berpikir positif seolah-olah ini tidak terjadi, namun saya melihat fakta ini, mengkui kelemahan saya, lalu saya menonjolkan apa yang bisa jadi kekuatan saya. Saya berusaha setiap masuk sekolah berpakaian rapi, bersih dan tdak bau. Saya melatih agar punya senyuman menarik, dan saya juga banyak membaca supaya wawasan saya meningkat. Ternyata di mata guru-guru saya, saya dipikir anak oarang kaya, setidaknya dalam beberapa kali dialog mereka heran kalau saya sering terlambat membayar SPP atau ada yang keheranan karena saya tidak berlangganan koran kompas (di masa SMU, berlangganan koran ini identik orang yang berada dan berpendidikan tinggi). Tetapi ingat, saya sedang tidak berpura-pura kaya, hanya memperkuat yang bisa saya perkuat dalam diri saya. (Pantar Purnawan)


Foto : Penulis saat berinteraksi dengan para mahasiswa Institut Perbanas, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar