Berdasarkan pengertian tradisional kecerdasan
identik dengan seberapa tinggi Intelligent Quotient (IQ) yang biasanya meliputi
kemampuan membaca, menulis, berhitung. Hal ini sebagai jalur sempit ketrampilan
kata dan angka yang menjadi fokus di dalam pendidikan formal (sekolah). Sehingga
ketika seorang mengikuti tes IQ dan mendapatkan nilai yang tinggi akan
dikatakan sebagai orang yang cerdas.
Padahal jika dicermati tolak ukur yang dijadikan
tes IQ hanya kemampuan logika matematika dan kemampuan berbahasa. Sehingga
sebenarnya tidak dapat dipakai sebagai penjamin masa depan seseorang.
Howard Garnerd mengemukakan bahwa skala kecerdasan
yang dipakai secara umum yaitu IQ memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang
dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang karena IQ tidak
boleh dianggap sebagai gambaran mutlak sepertinya halnya tinggi, berat dan
tekanan darah.
Gardner memimpin kelompok penelitian untuk
mencermati tentang kecerdasan. Dia mencari jawaban dari beberapa pertanyaan. Apakah
melatih seseorang dalam ketrampilan A akan menular ke ketrampilan B? Misal:
apakah pelatihan matematika meningkatkan kemampuan bermain musik atau
sebaliknya? Mengapa orang-orang
dengan IQ di atas 140 bekerja pada seseorang dengan IQ 100? Mengapa orang menonjol seperti grandmaster catur,
dirijen orkestra atau atlet tak dapat diidentifikasi melalui tes IQ?
Kecerdasan Majemuk
Beberapa hal yang menjadi kenyataan yang terjadi
di lapangan:
- Seseorang yang memiliki IQ tinggi akan berhasil di sekolah namun belum tentu berhasil di pekerjaan atau ketika lulus sekolah.
- Ada orang yang lemah dalam IQ namun dia menjadi pemain olahraga yang berbakat atau pemain musik yang hebat.
- Seorang yang berbakat terhadap suatu hal sejak kecil meskipun belum mengikuti pelatihan khusus. Misalkan: seorang anak Yehudi Menuhin pada usia 10 tahun sudah menjadi pemain biola internasional, dia memiliki kecerdasan dalam hal musik bahkan sebelum menyentuh biola atau menerima pelatihan musik dalam bentuk apapun.
- Adanya idiot savant, yaitu seorang yang kemampuannya luar biasa di suatu bidang namun tidak dapat mengerjakan hal lain.
Dengan adanya kasus seperti tersebut di atas dan
berdasarkan penelitian akhirnya Gardner dalam bukunya Frames of Mind (1983) mengemukakan tentang teori kecerdasan majemuk
atau multiple intelegence (MI).
Kecerdasan majemuk terdiri atas:
1. Kecerdasan Linguistik (bahasa)
Kemampuan membaca, menulis dan
berkomunikasi dengan kata-kata atau bahasa seperti penulis, jurnalis, penyair,
orator dan pelawak. Contoh: Charles Dickens, Abraham
Lincoln, T. S Eliot, Sir Winston Churchill.
2. Kecerdasan Logis-Matematis
Kemampuan berpikir (menalar)
dan menghitung, berpikir logis dan sistematis seperti ilmuwan, ekonom, akuntan,
detektif dan para profesi hukum. Contoh yang terkenal Albert Enstein.
3. Kecerdasan Visual-Spasial
Kemampuan berpikir menggunakan
gambar, memvisualisasikan hasil masa depan. Ini jenis ketrampilan yang
dikembangkan oleh arsitek, pemahat, pelaut, penjelajah dan fotografer. Contoh:
Picasso, Frank Lloyd Wright, Colombus.
4. Kecerdasan Musikal
Kemampuan mengubah atau mencipta
musik, dapat bernyanyi dengan baik, atau memahami dan mengapresiasi musik,
serta menjaga ritme. Hal ini biasanya menempel pada para musisi, komposer dan
perekayasa rekaman. Contoh: Mozart, David Foster.
5. Kecerdasan Kinestetik-Tubuh
Kemampuan menggunakan tubuh
secara terampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan
gagasan dan emosi seperti atlet, penari, aktor, ahli bedah, atau dalam bidang
kontruksi atau bangunan. Contoh: Charlie Chaplin, Michael Jordan.
6. Kecerdasan Interpersonal (sosial)
Kemampuan bekerja secara
efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan
empati dan pengertian, memperhatikan motivatsi dan tujuan mereka. Pemilik
kecerdasan ini biasanya adalah guru yang baik, fasilisator, penyembuh, politisi,
pemuka agama. Contoh: Gandhi, Ronald Reagan, Mother Teresa, Oprah Winfrey.
7. Kecerdasan Intrapersonal
Kemampuan menganalisa-diri dan
merenungkan diri—mampu merenung dalam kesunyian dan menilai prestasi seseorang,
meninjau perilaku seseorang dan perasaan-perasaan terdalamnya, membuat rencana
dan menyusun tujuan yang hendak dicapai, mengenal benar diri sendiri.
Kecerdasan ini dimiliki oleh filsuf, penyuluh, pembimbing, contoh: Eleanor
Roosevelt, Plato.
Pada tahun 1996, Gardner memutuskan menambah jenis
kecerdasan kedelapan yaitu:
8. Kecerdasan Naturalis
Kemampuan mengenal flora dan
fauna, melakukan pemilihan runtut dalam dunia kealaman dan menggunakan
kemampuan ini secara produktif, misalnya berburu, bertani atau melakukan
penelitian biologi. Contoh: Charles Darwin.
Kesimpulan
Howard Gardner menilai bahwa kecerdasan tidak
dapat hanya diukur berdasarkan angka seperti tes IQ. Namun Kecerdasan harus
dilihat secara luas sebagai kumpulan kemampuan, bakat, atau ketrampilan mental
dengan istilah lain biopsikologi. Sehingga setiap orang memiliki potensi dalam
dirinya untuk unggul di suatu bidang atau lebih, tergantung dari pengembangan
dalam diri orang tersebut. (Pantar Purnawan--untuk mata kuliah Psikologi Umum di Antiokhia Bible College)

terimakasih atas informasinya yang bermanfaat ini.
BalasHapuskerem om....jazakillah ya,, :)
BalasHapus