14 Mei 2012

TEORI KECERDASAN MENURUT HOWARD GARDNER

Berdasarkan pengertian tradisional kecerdasan identik dengan seberapa tinggi Intelligent Quotient (IQ) yang biasanya meliputi kemampuan membaca, menulis, berhitung. Hal ini sebagai jalur sempit ketrampilan kata dan angka yang menjadi fokus di dalam pendidikan formal (sekolah). Sehingga ketika seorang mengikuti tes IQ dan mendapatkan nilai yang tinggi akan dikatakan sebagai orang yang cerdas.

Padahal jika dicermati tolak ukur yang dijadikan tes IQ hanya kemampuan logika matematika dan kemampuan berbahasa. Sehingga sebenarnya tidak dapat dipakai sebagai penjamin masa depan seseorang.

Howard Garnerd mengemukakan bahwa skala kecerdasan yang dipakai secara umum yaitu IQ memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang karena IQ tidak boleh dianggap sebagai gambaran mutlak sepertinya halnya tinggi, berat dan tekanan darah.

Gardner memimpin kelompok penelitian untuk mencermati tentang kecerdasan. Dia mencari jawaban dari beberapa pertanyaan. Apakah melatih seseorang dalam ketrampilan A akan menular ke ketrampilan B? Misal: apakah pelatihan matematika meningkatkan kemampuan bermain musik atau sebaliknya? Mengapa orang-orang dengan IQ di atas 140 bekerja pada seseorang dengan IQ 100? Mengapa  orang menonjol seperti grandmaster catur, dirijen orkestra atau atlet tak dapat diidentifikasi melalui tes IQ?


Kecerdasan Majemuk

Beberapa hal yang menjadi kenyataan yang terjadi di lapangan:
  1. Seseorang yang memiliki IQ tinggi akan berhasil di sekolah namun belum tentu berhasil di pekerjaan atau ketika lulus sekolah.
  2. Ada orang yang lemah dalam IQ namun dia menjadi pemain olahraga yang berbakat atau pemain musik yang hebat.
  3. Seorang yang berbakat terhadap suatu hal sejak kecil meskipun belum mengikuti pelatihan khusus. Misalkan: seorang anak Yehudi Menuhin pada usia 10 tahun sudah menjadi pemain biola internasional, dia memiliki kecerdasan dalam hal musik bahkan sebelum menyentuh biola atau menerima pelatihan musik dalam bentuk apapun.
  4. Adanya idiot savant, yaitu seorang yang kemampuannya luar biasa di suatu bidang namun tidak dapat mengerjakan hal lain.

Dengan adanya kasus seperti tersebut di atas dan berdasarkan penelitian akhirnya Gardner dalam bukunya Frames of Mind (1983) mengemukakan tentang teori kecerdasan majemuk atau multiple intelegence (MI).

Kecerdasan majemuk terdiri atas:
1.      Kecerdasan Linguistik (bahasa)
Kemampuan membaca, menulis dan berkomunikasi dengan kata-kata atau bahasa seperti penulis, jurnalis, penyair, orator dan pelawak. Contoh: Charles Dickens, Abraham Lincoln, T. S Eliot, Sir Winston Churchill.
2.      Kecerdasan Logis-Matematis
Kemampuan berpikir (menalar) dan menghitung, berpikir logis dan sistematis seperti ilmuwan, ekonom, akuntan, detektif dan para profesi hukum. Contoh yang terkenal Albert Enstein.
3.      Kecerdasan Visual-Spasial
Kemampuan berpikir menggunakan gambar, memvisualisasikan hasil masa depan. Ini jenis ketrampilan yang dikembangkan oleh arsitek, pemahat, pelaut, penjelajah dan fotografer. Contoh: Picasso, Frank Lloyd Wright, Colombus.
4.      Kecerdasan Musikal
Kemampuan mengubah atau mencipta musik, dapat bernyanyi dengan baik, atau memahami dan mengapresiasi musik, serta menjaga ritme. Hal ini biasanya menempel pada para musisi, komposer dan perekayasa rekaman. Contoh: Mozart, David Foster.
5.      Kecerdasan Kinestetik-Tubuh
Kemampuan menggunakan tubuh secara terampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi seperti atlet, penari, aktor, ahli bedah, atau dalam bidang kontruksi atau bangunan. Contoh: Charlie Chaplin, Michael Jordan.
6.      Kecerdasan Interpersonal (sosial)
Kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan empati dan pengertian, memperhatikan motivatsi dan tujuan mereka. Pemilik kecerdasan ini biasanya adalah guru yang baik, fasilisator, penyembuh, politisi, pemuka agama. Contoh: Gandhi, Ronald Reagan, Mother Teresa, Oprah Winfrey.
7.      Kecerdasan Intrapersonal
Kemampuan menganalisa-diri dan merenungkan diri—mampu merenung dalam kesunyian dan menilai prestasi seseorang, meninjau perilaku seseorang dan perasaan-perasaan terdalamnya, membuat rencana dan menyusun tujuan yang hendak dicapai, mengenal benar diri sendiri. Kecerdasan ini dimiliki oleh filsuf, penyuluh, pembimbing, contoh: Eleanor Roosevelt, Plato.
Pada tahun 1996, Gardner memutuskan menambah jenis kecerdasan kedelapan yaitu:
8.      Kecerdasan Naturalis
Kemampuan mengenal flora dan fauna, melakukan pemilihan runtut dalam dunia kealaman dan menggunakan kemampuan ini secara produktif, misalnya berburu, bertani atau melakukan penelitian biologi. Contoh: Charles Darwin.

Kesimpulan

Howard Gardner menilai bahwa kecerdasan tidak dapat hanya diukur berdasarkan angka seperti tes IQ. Namun Kecerdasan harus dilihat secara luas sebagai kumpulan kemampuan, bakat, atau ketrampilan mental dengan istilah lain biopsikologi. Sehingga setiap orang memiliki potensi dalam dirinya untuk unggul di suatu bidang atau lebih, tergantung dari pengembangan dalam diri orang tersebut. (Pantar Purnawan--untuk mata kuliah Psikologi Umum di Antiokhia Bible College)

2 komentar: