8 September 2014

HANDPHONE DAN ETIKET SOSIAL



Ilustrasi : Handphone dan Etiket Sosial
Gawai adalah bahasa indonesia untuk kata gadget. Jika kita mencari arti kata gadget di google, akan muncul di Wikimedia yang menurutnya gadget adalah suatu peranti yang memiliki tujuan dan fungsi praktis dirancang secara berbeda dan lebih canggih dibandingkan teknologi normal yang ada pada saat penciptaannya. Kalau diartikan secara bebas yaitu teknologi yang praktis untuk orang perorang dan tidak terlalu besar dari segi ukuran. Biasanya gawai dihubungkan dengan handphone, laptop, alat pemutar musik (walkman, i-pod), dll.

Saya akan membahas secara spesifik gawai handphone yang saat ini banyak sekali macamnya. Jika dulu handphone merupakan gawai mahal dan mewah, sekarang dengan mudah kita bisa menemukan pengamen di persimpangan jalan juga memiliki handphone.

Tentu adanya gawai yang satu ini mempermudah kita untuk berkomunikasi satu dengan yang lain, bahkan pernah saya mengadakan rapat HRD memakai fasilitas handphone yaitu BBM multiperson chat, karena waktu itu kami berempat terjebak macet. Bahkan sekarang handphone ditanami banyak aplikasi, entah BBM, YM, facebook, aplikasi game, dll, sehingga handphone sudah bukan hanya alat bantu komunikasi tapi juga menjadi alat hibur sekaligus alat bersosialisasi.

Yang menjadi masalah adalah ketika si pengguna terlalu diikat oleh handphone. Pernah suatu kali kelompok saya sedang membicarakan Dhina dimana dia setiap ada pertemuan selalu asyik dengan handphone dia, katanya sih up-date status facebook-nya. Teman saya bilang, pastilah Dhina etiket pergaulannya buruk, dan ternyata tebakan teman saya tepat, si teman ini tidak punya banyak kawan, meskipun dia mengklaim dirinya banyak teman (di FB Dhina memiliki jejaring teman di atas 4ribu orang).

Dalam bisnis atau pergaulan sehari-hari ada etiket yaitu menghormati lawan bicara kita, jadi ketika kita menghadiri acara, di tempat ibadah atau di rapat kantor, jika kita lebih asyik dengan handphone maka orang lain akan menilai bahwa kita tidak fokus dalam acara tersebut, bahkan lebih parahnya kita bisa jadi bahan omongan negatif di luar seperti cerita saya di atas tentang Dhina.

Bagaimana sebaiknya menggunakan handphone yang tepat saat berada di sekitar kita?
1.      Matikanlah handphone jika sedang ada pertemuan ibadah atau pertemuan bisnis (meeting, presentasi atau seminar) tanpa harus diminta.
2.      Jika kita menunggu pesan penting, maka kita bisa mengatur handphone ke mode diam, lalu cukup per satu jam melihat handphone kita. Jangan dibuat mode getar, karena setiap pesan yang masuk akan bergetar dan tentu ini akan menggangu konsentrasi kita. Saya sendiri mengatur ada mode khusus dimana saya atur hanya orang tertentu yang saat pesan masuk bergetar, sedangkan pesan orang lain bahkan telepon semuanya diam.
3.      Jika kita menunggu telepon penting saat pertemuan berlangsung, handphone bisa dititip dengan orang di luar ruang yang kita percayai lalu dipesan agar kalau ada panggilan masuk katakanlah dari si-B, minta kita dipanggil. Jika tidak ada orang, lakukan langkah mirip nomor 2 di atas.
4.      Jangan sering melihat handphone saat kita berbicara dengan orang lain, selain mengganggu konsentrasi kita, tindakan kita juga membuat lawan bicara kita tidak nyaman. Jika memang kita harus menjawab panggilan telepon atau pesan, minta ijin dengan sopan kepada lawan bicara kita, tapi ingat minimalis tindakan ini, jangan sampai per-5 menit kita telepon atau per sekian menit kita membalas pesan masuk.

Lakukan langkah sederhana tersebut dan lihatlah cara orang memandang kita, orang akan melihat kita memiliki etiket pergaulan yang baik. Orang bijak mengatakan agar kita terlebih dahulu menghormati orang lain maka orang lainpun akan menghormati kita. Dengan langkah kecil nan sederhana tersebut niscaya orang akan menghormati kita dan mereka menilai kita memiliki etiket pergaulan yang baik, tidak seperti teman saya Dhina. (Pantar Purnawan--Soft Skill Trainer)

1 komentar: