27 Maret 2015

PENCITRAAN POSITIF



Ada seorang Menteri yang membanting pintu tol karena kena macet, lalu sang menteri diingat orang sebagai orang yang tegas. Ada gubernur yang sering turun ke bawah sehingga diingat orang sebagai pemimpin yang dekat rakyat kecil. Ada yang mengapresiasi namun ada juga yang menuduh bagian dari pencitraan. Saat ini memang pencitraan dikonotasikan negatif karena ulah beberapa tokoh atau pejabat yang melakukan atau mengatakan hal-hal yang baik namun untuk mencari popularitas atau tujuan tertentu. Jadi untuk melihat apakah si menteri atau si gubernur hanya pencitraan atau tidak harus melihat konsistensinya dan rekam jejak mereka, apakah sebelumnya mereka sudah melakukan sebelum jadi terkenal.

Menurut psikolog Elizabeth Hurlock, citra diri merupakan gambaran seseorang tentang dirinya secara keseluruhan, baik yang tercermin dari dalam dirinya (seperti kompetensi, karakter, nilai) maupun tampilan luarnya (penampilan, sikap, bahasa tubuh).

Jadi pencitraan bisa diartikan tindakan kita untuk dikenal orang. Sadar atau tidak sadar setiap orang melakukan pencitraan sehingga sesungguhnya di mata orang lain sering kali kita punya “label” khusus. Jika kita melakukan tindakan yang konsisten serta perkataan yang memang kita lakukan maka bisa disebut pencitraan positif, dan sebaliknya jika tidak konsisten maka saya kelompokan sebagai pencitraan negatif. Misal jika seseorang selalu mengajak agar tidak membuang sampah sembarangan, namun saat orang lain tidak melihat dirinya, dia membuang sampah sembarangan maka bisa disebut orang ini hanya pencitraan (dengan konotasi negatif). Si Gubernur yang saya sebut di atas ternyata jauh sebelum popular seperti sekarang memang sudah sering melakukan pendekatan ke masyarakat maka bisa disebut pencitraan positif.

Nah, seperti apa kita mau dikenal? Jangan-jangan selama ini kita dikenal orang sebagai orang mudah marah? Atau sebagai orang yang lambat bekerja? Atau sebagai seorang yang ramah dan sering tersenyum? Atau sebagai seorang yang memperhatikan penampilan yang baik? Atau sebagai orang yang identik dengan penampilan kusut?

Sempatkan waktu untuk intropeksi mengenali diri kita.

Tentu kita ingin dikenal sebagai orang yang positif. Mulailah memperbaiki hal yang membuat diri kita dikenal negatif dan lakukan perubahan itu dengan konsisten entah orang melihat atau tidak. Jika kita ingin dikenal orang sebagai orang ramah, mulailah ramah kepada semua orang tanpa memandang status atau jabatan seseorang. Jika ingin dikenal sebagai orang yang bisa dipercaya, jaga diri supaya kita tidak sekali-kali menipu orang lain.

Ada seorang yang saya kenal, dia sejak lulus kuliah tercitrakan sebagai seorang wanita jutek, susah bergaul dan tidak menyenangkan, citra itu melekat lama sekali, dia pelit tersenyum khususnya ke anak buahnya dengan alasan jaga wibawa. Meskipun sekarang lambat laun sudah mulai berubah lebih baik, ikut seminar motivasi dan pelatihan, namun rupanya citra negatif itu masih menempel setidaknya dia perlu lebih banyak waktu untuk mendapatkan citra positif. Bahkan sering dia jadi bahan omongan miring di belakang.

Belajar dari hal ini segera berubah jika anda memiliki citra negatif.

Tindakan dan perkataan kita yang konsistenlah akan membuat seperti apa kita dikenal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar