25 Februari 2013

DUA SISI CINTA



Dalam hubungan antara pria dengan wanita bisa muncul cinta, jika cinta ini dipelihara akan menghadirkan hubungan yang lebih dekat dan pria wanita tersebut dapat melanjutkan ke dalam jenjang pernikahan. Agar pernikahan dapat langgeng maka perlu terus dipelihara dan ditumbuhkan cinta.

Cinta memiliki dua sisi, seperti koin, kedua sisi tersebut takkan terpisah. Kedua sisi akan mempengaruhi pertumbuhan sebuah cinta.



Sisi pertama adalah True Love (TL). TL adalah cinta yang hadir dalam batiniah atau emosional seperti rasa memiliki, rasa sayang, rasa rindu.
Sisi kedua adalah Romantic Love. RL secara sederhana dihubungkan dengan sentuhan, pujian atau kemesraan pasangann seperti pelukan, belaian, ucapan “I love you”, sebuah bingkisan, dll.
Budaya timur lebih cenderung bertumbuh lebih besar di TL sehingga jarang sekali melihat pasangan suami-istri berpelukan atau bercium, bahkan ketika saya kecil di sebuah desa menjadi peristiwa langka melihat suami-istri jalan bergandengan tangan. Sebaliknya di budaya barat, RL bertumbuh lebih tinggi dibanding TL sehingga dengan mudah kita menemukan romantisme di dalam kehidupan mereka. Mereka mengenal istilah candle light diner, mereka mengenal istilah say love with flower dan istilah keromantisan lainnya.

Bagi orang yang kurang di RL sering membela diri dengan mengatakan, “Saya sih memang jarang sayang-sayangan atau peluk-pelukan, namun toh aku cinta sekali dan tidak pernah berselingkuh”, padahal seperti yang saya sampaikan di atas bahwa cinta akan bertumbuh jika ada keseimbangan kedua sisi tersebut, maka meskipun kita kurang dalam budaya RL semestinya kita mau mencoba dan melatih agar RL bisa bertumbuh, mungkin sekedar menggandeng tangan saat jalan, atau mencium sebelum berangkat kerja atau mengirimkan pesan singkat mengatakan “ I love you” dan memuji pasangan kita.

Saya dan istri mempraktekkan hal ini. Selain kami ingin selalu bertumbuh dalam cinta kami juga ingin mengajarkan kepada Matthew anak kami soal dua sisi cinta.

Ada sebuah cerita nyata yang bisa kita renungkan: Dalam sebuah diskusi di TV, ada seorang pembicara melaporan di salah satu TK di Bintaro pernah ditanya, “Siapa yang pernah melihat papi-maminya berantem?” dan ada 95% anak menjawab pernah. Saat ditanya, “Siapa yang pernah melihat papi-maminya berciuman?” hanya 5% anak yang mengangkat tangan. Wah... (Pantar Purnawan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar