12 Maret 2012

MITOS - Aku sering Melanggarnya

Foto bertiga dianggap pamali.
Pada saat saya sedang berada di mall Pacific Place yang terletak di daerah Sudirman, Jakarta, dimana mall tersebut merupakan salah satu mall mewah di negeri ini, saya mengamati bahwa hampir semua pengunjung berpakaian rapi dan wangi, terlihat sekali wajah-wajah yang percaya diri dan berpendidikan. Sesuai dengan target pasar dari mall ini yaitu masyarakat sosial atas. Ada banyak merek terkenal dipasarkan di tempat ini, mulai dari mobil yang harganya milyaran, dan juga sepatu atau tas yang harganya bisa mencapai ratusan juta, ada juga produk lain yang memang diperuntukan untuk golongan atas.

Saat saya sedang berada di lantai Dasar yang merupakan lobby utama, di sana terdapat tiga lift yang dikelilingi hiasan kolam air. Biasanya di sekitar kolam ini diberi hiasan sesuai tema pada bulan tersebut. Sehinga sekitar kolam yang tidak berisi ikan ini akan menjadi tempat foto beberapa orang yang ingin mengabadikan dirinya.

Saat saya melintas ada beberapa orang jika ditilik dari penampilannya, sangat bergaya, dan pasti orang yang setidaknya bukan miskin, memiliki perangkat modern dan dari cara berbicaranya juga merupakan orang Jakarta yang berpendidikan. Mereka sedang bersiap foto, tiga orang berjajar di pinggir kolam. Sebelum kamera berbunyi, salah satu orang menghentikan dan mengatakan, “Hei kan kita tidak boleh foto bertiga.” Saya menoleh dan tertawa.

Ternyata mitos soal foto bertiga masih dipelihara. Disebut pamali atau menjadi pantangan bagi yang berfoto bertiga karena yang berada di tengah bisa mendapat  musibah, entah itu kebangkrutan finansial, kecelakaan bahkan kematian.

Apakah benar mitos atau disebut pantangan-pantangan itu bisa mempengaruhi hidup seseorang? Saya dan keluarga saya beberapa kali melanggarnya:
  1. Dalam satu tahun tidak boleh dalam satu keluarga mengadakan pernikahan. Kakak kedua saya menikah tanggal 7 Februari 2002 dan kakak pertama saya menikah tanggal 22 Februari tahun yang sama.
  2. Tidak boleh berfoto bertiga. Wah sudah tak terhitung saya foto bertiga dengan orang lain, apalagi sekarang saya memiliki anak satu, sehingga setiap foto pasti bertiga, entah saya di tengah, entah istri saya atau anak saya yang di tengah.
  3. Tidak boleh membunuh binatang saat sedang hamil termasuk para suami yang istinya hamil. Istri saya dan saya pernah membunuh kecoa saat istri sedang hamil. Bahkan saya pernah dengan kecepatan tinggi pada waktu jam 5 pagi menabrak anak kucing.
  4. Membawa gunting saat hamil. Istri saya bawa tas kemana-mana tetapi tidak pernah bawa gunting saat hamil.
  5. Wanita dilarang duduk di depan jendela saat petang hari karena bisa menjauhkan jodoh. Kakak wanita saya sebelum menikah sering kali melakukan hal itu.
  6. Jangan menjahit saat malam hari. Ibu saya sering sekali menjahit baju malam hari.
 Dan masih banyak lagi.
Jika memang benar mitos atau pantangan harus dilakukan, bagaimana dengan orang bule yang mungkin semuanya menabrakkan mitos tersebut?

Ada beberapa hal yang bisa direnungkan seandainya Anda termasuk orang yang mempercayai mitos: 
  1. Jika kita percaya Tuhan, mengapa masih percaya mitos yang jelas bukan jalan Tuhan? Jangan-jangan kita hanya percaya sebatas di pikiran bahwa Tuhan ada tetapi kita tidak percaya bahwa hidup kita sesungguhnya dipelihara Tuhan.
  2. Berapa persen orang yang mendapatkan musibah jika melanggar mitos? Ada seorang teman cerita kalau tetangganya melahirkan anak yang muka bayinya datar kayak terpotong, menurut cerita ayahnya dulu pernah memotong ayam dan membuat kepala ayam terpotong rata. Mengapa hanya satu atau beberapa cerita dijadikan patokan kebenaran akan mitos?
  3. Kalau dilihat detil, mitos bisa menyebabkan ketidak fokusan kita dalam mempercayai Tuhan sehingga saya yakin setan bisa memakai mitos sebagai alatnya. Dan dia bisa menjadikan kenyataan terhadap apa yang kita takutkan. 

2 komentar:

  1. ya... sebagai orang yang beragama ... mari kita lihat di dalam kitab kepercayaan kita masing2 ... jikalau itu memang di larang Allah swt pasti akan menuliskannnya disana .. atau pun dalam sebuah hadist .. hehehe... pasrahkanlah semuanya pada Allah..

    BalasHapus
  2. @icha : setuju, ketika kita beriman, pertanggung jawabkan iman kita dengan yang tertulis di kepercayaan kita.

    BalasHapus